Minggu, September 30, 2012

REFLEKSI PARIWISATA BANDUNG

Masih terngiang pada pidato presiden USA, Barack Obama pada kunjungannya  ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. Beliau mengungkapkan ketakjubannya akan perkembangan kota Jakarta. Beliau masih ingat betul kota Jakarta 40 tahun yang lalu. Gedung tertinggi adalah Hotel Indonesia. Toserba terbesar ialah Sarinah, ‘Interchange’ pertama dulu hanya ada Semanggi, Sekarang highway & interchange’ sudah sangat banyak di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Seandainya saja, ….
Obama sekolahnya bukan di Menteng. Seandainya saja Obama bersekolah, di SD Pajagalan, SD Pabaki, SD Ciateul, atau SD Merdeka atau SD Banjarsari, SD Pasirkaliki. Apa kira-kira isi pidato yang akan disampaikan oleh Presiden Obama jikalau berkunjung ke kota Bandung???

Seandainya saja  ………
Saya dimintai menyampaikan pidato oleh khalayak banyak, tapi tak mungkin karena saya bukan siapa-siapa dan saya hanya masyarakat biasa. Saya adalah saya.
Namanya juga berandai-andai, ya boleh juga dong kita sebagai manusia.

Saya masih ingat ketika akan meninggalkan Bandung, Pasupati masih sedang dalam tahap persiapan. Saya masih ingat, jalan Dewi Sartika macet penuh dengan angkot.  Saya masih ingat, Dari rumah di Sukaleueur “ka lembur di Soreang, hanya 15 menitan lah dan saya masih ingat akses menuju ke Soreang satu-satunya, ya hanya jalan Kopo itu saja. Mengingat tidak ada akses yang lain.

Memang, kini kota Bandung semakin padat dan semakin ramai. Pasupati kini membentang dengan megahnya yang kini menjadi ikon Kota Bandung, akses ke Soreang kini tak hanya lewat Kopo saja.  Dewi Sartika kini semakin padat merayap penuh akan angkot-angkot dan beberapa bus kota yang saling berebut siap melayani para pelanggannya, mall ada dimana-mana dan yang terbaru TSM (Transtudio Mall, d/h Bandung Supermal), SUS Gedebage yang kini pengerjaannya sudah mencapai hampir finish.

Sungguh tak terkira karunia yang diberikan oleh Allah SWT kepada  Kota Bandung. Udaranya yang dingin, letaknya yang diriung gunung,  ditambah lagi dengan kreativitas warganya yang sudah sangat terkenal akan kreatifnya….sungguh menjadikannya sebagai kota yang diminati orang untuk mengunjunginya. Orang akan datang, datang, dan datang lagi….walaupun hanya untuk semalam bahkan hanya untuk sekedar makan siang saja bersama kelaurga, sahabat, maupun kolega, ataupun sendiri saja.

Saya pernah bertemu dengan seseorang (sebut saja paijo). Ia berasal dari bilangan Kemang, JakSel. Waktu itu saya bersama teman saya sedang makan siang alias “lunch” di sebuah resto yang berada di Bilangan Dago Pakar. Kebetulan saya mendapat tugas dari guru Bahasa Indonesia yaitu tugasnya mewawancarai masyarakat terkait pariwisata. Intinya saya menanyakan, berapa lama dan apa tujuan Anda mengunjungi Bandung? Ia menjawabnya “hanya untuk makan siang saja dan saya kesini (Bandung .red) karena takjub akan pemandangannya yang sangat mempesona”. Saya kaget dalam hati mendengar jawaban tersebut sehingga menimbulkan pertanyaan yang cukup menarik jika di’analisis’ lebih lanjut.

Kemudian, saya berfikir esok harinya, apa yang membuat Bandung selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Ternyata, saya mendapat jawabannya seminggu setelah “lunch” di resto tersebut. Jawabannya adalah, promosi dari mulut ke mulut, utamanya dari orang yang pernah mengunjunginya, merupakan promosi haratis yang memberikan kontribusi yang sungguh luar biasa.

Memang tak ada data yang menjadi referensi, tapi berdasarkan pengamatan secara kasat mata, di pintu tol masuk ke arah Kota Bandung khususnya Pasteur, bukannya didominasi oleh kendaraan plat “D” namun didominasi oleh plat “B”.

Disbudpar sangatlah terbantu dengan promosi dari mulut ke mulut ini yang disebarkan oleh para wisatawan yang telah mengunjungi kota Bandung.

Akan tetapi dalam hal ini, justru pemkot Bandung harus lebih memperhatikan dampak-dampak dalam hal lainnya, karena keberhasilan suatu daerah dalam menyedot pengunjung/wisatawan untuk mengunjungi daerahnya pastinya akan berdampak pada sektor-sektor lainnya, seperti lalu lintas yang dikhawatirkan semakin macet, kebersihan yang dikhawatirkan berdampak pada penanganan sampah, dll. Dan pemkot Bandung pula mesti memperhatikan kenyamanan para wisatawan mulai dari keamanan dan ketertiban setempat, infrastruktur yang prima, prinsip sapta pesona yang diamalkan oleh semua unsur masyarakat yang terlibat didalamnya, dll agar mereka (wisatawan .red) tetap betah dan nyaman.

Dan disaat ini pula, pemkot Bandung harus semakin giat dalam melayani tamu-tamunya dengan memperhatikan pula penghuni aselinya. Dengan cara menata Cikapundung menjadi kembali cantik, membuat Bandung “green and clean city”, membuat sistem penanganan lalu lintas dan transportasi massal yang terpadu, membangun dan meningkatkan layanan infrastruktur yang prima, menciptakan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang kondusif, dan stabil dan masih banyak lagi yang semuanya bermuara demi menciptakan Bandung kota Berbunga dan semakin banyak dikunjungi oleh wisatawan baik domestik maupun mancanegara di kemudian hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar